Migrasi ke EVDO, Flexi Gelontorkan Rp 400 Miliar

Jakarta - Telkom tidak main-main dalam membangun infrastruktur Flexi. Dana sebesar Rp 400 miliar pun siap dikucurkan guna memigrasikan Flexi ke Evolution-Data Optimized (EVDO).

"Investasinya sekitar Rp 400 miliar untuk migrasi ini. Mulai dari pembangunan infrastruktur hingga pencetakan kartu baru," ujar Deputi Executive General Manager Business Development Telkom Flexi, Beni Sukawanto saat berbincang dengan detikINET.

Flexi akan menerbitkan kartu khusus yang bisa mensupport teknologi EVDO. Beni mengatakan bahwa untuk pelanggan Flexi yang ingin berpindah ke EVDO tidak akan dipungut biaya.

"Bisa dengan beli kartu baru tersebut, atau bagi pelanggan yang ingin menggunakan nomor lama tapi ingin yang EVDO, tinggal ganti saja. Kita tidak akan memungut biayanya," katanya.

Saat ini pelanggan Flexi secara nasional sudah mencapai 18 juta. Dengan 4,5 juta di antaranya adalah pelanggan yang aktif menggunakan FlexiNET.

Hingga akhir tahun 2011 ini, Beni menargetkan ada 95.000 pelanggan yang menggunakan EVDO.

"Tahun ini harapannya ada 95.000 pelanggan kita yang menggunakan EVDO. Dan tahun 2012 diharapkan bisa bertambah menjadi 200.000 pelanggan pengguna EVDO," harapnya.

Indosat Klaim Sukses Kawal Sarana TIK ASEAN Summit

Jakarta - Indosat mengklaim berhasil dalam mengawal dan menyediakan fasilitas teknologi informasi dan komunikasi (TIK) event berskala Internasional Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ASEAN ke-18 yang baru dihelat di Jakarta.

Fasilitas yang diberikan mulai dari penyediaan layanan telekomunikasi untuk siaran TV Broadcasting ke dalam dan luar negeri (Telecast) melalui jaringan satelit internasional Indosat dan lainnya.

"Merupakan kehormatan bagi kami mendapatkan kepercayaan dari ASEAN untuk memberikan dukungan fasilitas teknologi ICT dalam event internasional ini. Kami berharap dengan kesuksesan ini dapat turut mengangkat nama Indonesia sebagai ketua ASEAN 2011 di mata dunia Internasional," tutur Djarot Handoko, Division Head Public Relations Indosat, dalam keterangannya, Senin (9/5/2011).

Didukung oleh teknologi fiber optik yang tersedia di Jakarta Convention Center sebagai tempat berlangsungnya acara, Indosat memberikan layanan telekomunikasi di media center berupa link untuk siaran TV Broadcasting ke dalam dan luar negeri (Telecast) melalui jaringan satelit internasional Indosat dalam menyiarkan konferensi yang dihadiri oleh parlemen negara-negara anggota ASEAN.

Indosat juga menyediakan asistensi petugas sebagai hospitality bagi peserta yang akan memastikan kehandalan layanan dalam memberikan kenyamanan bagi para delegasi, panitia dan juga rekan-rekan media.

Telkomsel Rayu Mahasiswa Kembangkan Konten Lokal

Bandung - Saat ini pelaku techno entrepreneur dari kalangan mahasiswa terbilang masih minim. Melihat hal ini, Telkomsel pun siap menjemput bola dengan aktif datang ke kampus untuk menumbuhkan motivasi mereka.

Meski saat ini sudah banyak aplikasi dan konten karya anak bangsa, namun masih sedikit yang merupakan karya dari mahasiswa. Jumlah pelaku techno entrepreneur dari mahasiswa bahkan dikatakan masih di bawah 5 persen.

Hal ini diungkapkan oleh Sri Bimo Ariyanto Manager Service Management Telkomsel Jabar saat berbincang dengan detikINET, Selasa (10/5/2011).

"Masih sedikit. Tapi angka itu bisa dibilang cukup baik. Namun perlu ditingkatkan lagi," kata pria yang biasa dipanggil Bimo ini.

Dalam upayanya meningkatkan potensi mahasiswa tersebut, sambung Bimo, pihaknya aktif untuk merangkul mahasiswa. Telkomsel pun getol menggelar seminar dan workshop ke kampus-kampus. Hal ini dilakukan dalam upaya menjembatani dunia akademis dengan dunia kerja.

"Kita bekerjasama dengan kampus-kampus, khususnya yang berbasis TIK. Kita menjalin komunikasi dua arah yaitu melalui program student visit dan corporate visit. Kalau tidak kita yang ke kampus, ya mereka yang datang ke kita," katanya.

Kunjungan dari berbagai universitas ternama di Jabar dan bahkan dari pulau Jawa ke kantor Telkomsel sudah sering dilakukan. Beberapa kampus yang sudah terjalin kerjasamanya dengan Telkomsel antara lain Unpad, ITB, Unikom, Institut Teknologi Harapan Bangsa (ITHB), Institut Teknologi Telkom (IT Telkom) dan beberapa kampus lainnya.

"Kami tidak ingin kunjungan tersebut hanya sekedar melihat-lihat kantor saja, tetapi kami membekali mereka sesuai dengan bidang ilmu yang mereka inginkan, tentu saja dikemas dengan bahasa yang sederhana dan praktis. Jadi setelah kunjungan ini, mereka membawa sesuatu yang dapat memacu semangat dalam berfikir untuk kemajuan masa depannya kelak sehingga bermanfaat untuk bangsa dan tanah air," terangnya.

Tak hanya itu, Telkomsel juga membuat program yang membangkitkan inovasi karya anak bangsa dan jiwa wirausahawan. Program yang dikemas dalam bentuk Mobile Technopreneurship ini diharapkan bisa meningkatkan motivasi bagi para mahasiswa untuk berkarya.

"Itu (mobile technopreneueship-red.) adalah sebuah program pengembangan konten dan aplikasi di kalangan mahasiswa. Melalui program Mobile Technopreneurship ini mewujudkan langkah nyata Telkomsel untuk memajukan industri kreatif nasional melalui lembaga pendidikan," pungkasnya.




( afz / ash )

XL Siap Jika ASEAN Bebas Roaming

Jakarta - XL Axiata mengaku siap jika layanan telekomunikasi di negara-negara ASEAN harus bebas roaming. Semacam uji coba pun sudah dilakukan.

Presiden Direktur XL Axiata, Hasnul Suhaimi, menyatakan belum semua provider negara ASEAN siap terapkan tarif bebas roaming untuk negara sesama anggota ASEAN. Pasalnya ada beberapa provider di negara seperti Malaysia dan Singapura yang masih mengandalkan penerimaan dari roaming.

"Ada yang mengandalkan uangnya dari roaming, Singapura dan Malaysia besar sekali penerimaannya," ujar Hasnul kepada detikINET, Selasa (10/5/2011).

Namun, Hasnul menegaskan, pihaknya siap jika pemerintah mengeluarkan kebijakan tarif bebas roaming ke negara anggota ASEAN.

Dia mengaku telah melakukan uji coba pada 1 November 2010 dengan sesama grup Axiata."Kita sudah pernah coba dengan sesama grup saja di ASEAN, tarif hemat 80 persen buat sms dan telepon, dan BlackBerry gratis roaming," ujarnya.

Berdasarkan uji coba tersebut, Hasnul mengakui terjadi penurunan pendapatan dari roaming tetapi penurunan tersebut tidak memengaruhi pendapatan perusahaan keseluruhan secara signifikan. Hal ini karena, di sisi lain, terjadi kenaikan penggunaan telepon hingga 125 persen.

"Pendapatan dari roaming turun sekitar 30 persen, tapi traffic-nya naik sampai 125 persen dan porsi roaming sendiri ke pendapatan hanya 10 persen. Jadi tidak memengaruhi pendapatan kita," tegasnya.

Hasnul menegaskan pembebasan tarif roaming sesama anggota ASEAN ini sangat diperlukan, agar tidak ada orang ASEAN yang ketakutan sulit berkomunikasi jika melakukan perjalanan ke negara tetangganya. Dia menegaskan XL siap menerapkan pembebasan tarif tersebut jika pemerintah memberlakukan kebijakan itu.

"Saya ingin orang gak merasa merantau, jangan takut nyeberang. XL sangat siap karena masyarakat paling penting," pungkasnya.




( nia / wsh )

Wanita Malaysia Tertipu Rp 3 Miliar di Facebook

Malaysia - Penipuan online via Facebook kembali terjadi. Tidak tanggung-tanggung, korban harus menanggung kerugian sejumlah USD366 ribu atau sekitar Rp 3 miliar!

Korban adalah seorang wanita warga negara Malaysia. Awalnya, dia berkenalan dengan seorang pria di Facebook. Sang pria mengaku berbangsa Inggris dan sedang membutuhkan uang.

Pelaku menyatakan pada korban bahwa dia memiliki kontrak senilai USD1,5 juta dengan perusahaan minyak Malaysia, Petronas. Namun dia harus membayar sejumlah uang sebelum mendapat uang jutaan dollar tersebut.

Barangkali merasa iba atau tergoda dengan bujuk rayu pelaku, korban yang tak teridentifikasi namanya itu bersedia menyumbangkan uang. Dalam beberapa transaksi, dia memberi total USD366 ribu pada pelaku.

"Korban membayar pada pria itu dalam beberapa transaksi. Dia iba mendengar cerita sang pria," ucap Datuk Wira Syed Ismail Syed Azizan dari Federal Commercial Crimes, dilansir ZDnet dan dikutip detikINET, Selasa (10/5/2011).

Akhirnya, korban sadar telah jadi korban penipuan. Segera ia lapor pada polisi setempat. Investigasi aparat berujung pada penangkapan enam tersangka. Mereka berasal dari tiga negara, Nigeria, Bangladesh dan warga Malaysia sendiri.




( fyk / wsh )

Tragedi Bunuh Diri di Balik Kesuksesan iPad dan iPhone

Jakarta - Di balik nama besar Apple, ada kisah pilu mengenai para buruh di pabrik perakit iPad dan iPhone yang bekerja keras. Salah satunya, publik mungkin masih ingat dengan kasus bunuh diri yang dilakukan para pekerja perusahaan bernama Foxconn tersebut.

Skandal ini menyeruak pada pertengahan tahun lalu. Sepuluh pekerja diberitakan bunuh diri di pabrik tempat perakitan iPhone, iPod dan iPad tersebut. Kabarnya, karena tidak kuat diperlakukan tidak manusiawi, para pekerja itu lebih memilih mengakhiri hidupnya dengan melompat dari atas gedung.

Kasus ini diduga terjadi karena jam kerja yang panjang, upah rendah dan stres tingkat tinggi yang dialami karyawan. Kebanyakan pekerja pabrik itu adalah para migran dari daerah miskin dan pedesaan di sekitar China.

Dikutip detikINET dari berbagai sumber, Senin (2/4/2011), Foxconn konon meningkatkan jam kerja karyawan demi memenuhi kebutuhan akan iPhone dan iPad. Selain itu, mereka juga mendapat tekanan untuk merahasiakan apa yang mereka kerjakan -- sesuai permintaan dari Apple.

Gerah dengan pemberitaan ini, Jobs lantas mengkonfirmasikan bahwa pekerjaan yang dilakukan di pabrik yang berlokasi di Shenzhen, China ini bukanlah kerja rodi, melainkan lebih kepada belum adanya standar etika perusahaan yang berhasil dikompromikan.

"Pergilah ke pabrik itu. Mereka punya rumah makan, bioskop, rumah sakit dan kolam renang," kilahnya kala itu.

Setelah gencar pemberitaan tersebut, pemilik Foxconn lantas menaikkan gaji karyawan mereka sebesar 30 persen. Sebelumnya para pekerja hanya digaji sesuai upah minimum provinsi.

Kami berharap kenaikan upah bisa membantu meningkatkan standar hidup mereka dan memungkinkan mereka memiliki waktu luang lebih. Itu baik untuk kesehatan," ujar seorang pejabat perusahaan Foxconn saat itu.

Namun toh pada kenyataannya sisi gelap Apple ini selalu menjadi sorotan media dari tahun ke tahun. Dan setiap perayaan hari buruh sedunia yang jatuh setiap 1 Mei, saat itu pula kisah ini kembali dikorek.




( rns / ash )

Modal dan Motivasi, 'Musuh' Mahasiswa Bikin Aplikasi

Bandung - Secara kualitas, aplikasi buatan mahasiswa tidak kalah dengan developer profesional. Namun kurangnya modal dan motivasi kerap kali membuat para mahasiswa yang memiliki potensi mengembangkan aplikasi, khususnya aplikasi mobile, jadi tidak percaya diri.

"Secara kualitas, mereka tidak kalah," ungkap Manager Service Management Telkomsel Jabar, Sri Bimo Ariyanto saat berbincang dengan detikINET, Selasa (10/5/2011) saat ditanya mengenai potensi pengembang konten lokal di kalangan mahasiswa.

Walau secara kualitas karya mahasiswa ini tidak kalah, namun rupanya potensi mahasiswa ini belum optimal tergarap. Kurangnya motivasi dan modal menjadi faktor penghambat berkembangnya potensi tersebut.

"Kalau dibilang layak dan tidak, ya pasti layak. Cuma mereka (mahasiswa-red.) ada yang belum berani memulai. Mereka punya potensi dan bakat. Ini yang harus didorong dan diberi kepercayaan," kata pria yang akrab dipanggil Bimo ini.

Sadar akan hal tersebut, Bimo mengungkapkan bahwa Telkomsel memiliki kepentingan untuk ikut mengembangkan potensi aplikasi dan konten lokal.

"Aplikasi dan konten yang ada saat ini masih banyak produk dari luar. Padahal peluangnya sangat besar jika mereka mau masuk ke dalam bisnis ini. Dengan 100 juta pelanggan kita, ini sangat menjanjikan," katanya.

Bimo pun menegaskan bahwa pihaknya juga komitmen untuk memberikan dukungan pada developer serta mahasiswa yang memiliki potensi untuk berkarya. Salah satunya dengan membuka pasar.

"Kita siap menerima aplikasi dan konten buatan mahasiswa. Kita bisa menjadi fasilitator untuk penjualan. Kita memiliki komitmen untuk membangkitkan inovasi karya anak bangsa. Sekarang banyak market yang bisa memasarkan karya. Tidak perlu content provider, personal pun bisa. Misalnya di Apple Store ataupun di Android Market. Tinggal register saja," katanya.

Namun, sebelum karya tersebut dilempar ke pasaran perlu diadakan ujicoba terlebih dahulu. Telkomsel pun memfasilitasi hal tersebut.

"Kita membuat semacam lab kecil-kecilan untuk ujicoba pembuatan aplikasi. Sebelum dilempar ke pasaran kita trial dulu. Salah satunya yang coba dijalin dengan kampus-kampus berbasis TIK," jelasnya.




( afz / ash )